Logo SAGUSABLOG

Workshop Sagusablog Lanjutan Angkatan 41.

Workshop IGI Kota Kendari

Workshop yang mengangkat tema Pemanfaatan ICT dalam Pembelajaran ini diikuti oleh guru-guru (Anggota IGI dan Non IGI) yang ada di Kota Kendari dan sekitarnya.

Ujian Kompetensi Keahlian

Ujian Kompetensi Keahlian SMKS Eka Bhakti Kendari untuk Kompetensi Nautika Kapal Penangkap Ikan

Ujian Kompetensi Keahlian

Ujian Kompetensi Keahlian SMKS Eka Bhakti Kendari untuk Kompetensi Nautika Kapal Niaga

Sabtu, 27 Agustus 2022

Jurnal Refleksi




JURNAL DWI MINGGUAN (14 - 27 Agustus 2022)

  1. Peristiwa

       Akhirnya Modul 1 telah kami selesaikan dengan baik. Begitu banyak pengalaman dan pengetahuan yang semakin membuka wawasan dan cakrawala berpikir tentang bagaimana mewujudkan merdeka belajar bagi anak didik kita dengan tetap selalu berpegang teguh pada nilai-nilai kebajikan yang telah disepakati yaitu nilai-nilai yang ada pada Profil Pelajar Pancasila.
     Perlahan-lahan saya mulai menyadari adanya perubahan pada diri saya. Saya banyak melakukan refleksi bagaimana diri saya selama ini, dan ini semakin memacu semangat saya untuk segera melakukan perubahan-perubahan positif di lingkungan sekolah. Banyaknya persoalan-persoalan yang terjadi di sekolah belakangan ini, membuat saya merasa tertantang untuk turut membantu dengan berbekal pengetahuan yang saya dapatkan selama ini. 
    Saya juga sudah mulai bisa menggerakkan beberapa rekan sejawat untuk turut andil dalam melakukan perubahan, apalagi kami didukung penuh oleh Kepala Sekolah. Beberapa program mulai kami jalankan, banyak rencana-rencana ke depan yang juga akan kami lakukan

    2. Perasaan

        Perasaan saya setelah menyelesaikan Modul 1.4 ini sangat senang dan bahagia sekaligus sedih. Di sini saya akhirnya mengetahui bahwa setiap orang melakukan suatu tindakan itu karena suatu alasan yakni untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga ketika kita mendapatkan murid yang melakukan tindakan yang melanggar peraturan maka dipastikan murid tersebut gagal dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga sebagai seorang guru, kita tidak boleh langsung menyalahkannya. Mari kita bertindak sebagai seorang Manager dengan melakukan Segitiga Restitusi, sehingga murid kita menyadari bahwa tindakannya tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai yang telah diyakininya. Murid akan menjadi bisa menghargai dirinya sendiri dan kembali ke kelompoknya dengan lebih kuat.
        Ketika mempelajari modul ini, saya terkadang merasa sedih dan bersalah mengingat apa yang saya lakukan selama ini. Banyak sekali kesalahan-kesalahan yang sadar atau tidak sadar mungkin telah membuat murid saya merasa dendam atau sakit hati kepada saya. 
       Dan ketika saya berbagi pengetahuan dengan rekan sejawat dan Kepala Sekolah tentang bagaimana cara memulai menumbuhkan budaya positif di sekolah, saya merasa semakin termotivasi untuk berbuat dan belajar lebih banyak lagi melihat antusiasme mereka yang mulai muncul. Yang awalnya saya hanya mengusulkan membuat keyakinan kelas, justru Kepala Sekolah menantang kami untuk bisa membuat suatu keyakinan sekolah. 
      
    3. Pembelajaran

     Pembelajaran yang paling saya rasakan manfaatnya setelah menyelesaikan modul ini adalah bagaimana membangun kolaborasi dengan warga sekolah dalam membuat suatu perubahan-perubahan positif. Dengan melakukan pendekatan-pendekatan secara personal, akhirnya saya mulai bisa meyakinkan rekan sejawat untuk bergerak bersama. Banyak kasus yang terjadi di sekolah, dan tidaklah mudah untuk menyelesaikannya jika tidak ada kolaborasi dan komunikasi yang baik .
       Selain itu, pembelajaran yang berpihak kepada murid. Di sini saya mendapatkan pembelajaran yang luar biasa, saya mulai bisa memahami posisi murid dengan segala sifat karakter dan bakatnya dengan mencoba menyesuaikan proses pembelajarannya. 
        Pada modul ini juga saya mendapatkan pembelajaran tentang bagaimana membedakan antara hukuman dan konsekuensi, bagaimana membedakan antara peraturan dan keyakinan kelas/sekolah, dan bagaimana melakukan suatu segitiga restitusi dalam menyelesaikan suatu masalah.

    4. Penerapan

        Saya mulai menyusun beberapa rencana aksi nyata yang menurut saya harus segera dilaksanakan, seperti : melakukan desiminasi terkait materi-materi yang telah dipelajari pada Modul 1, membuat keyakinan kelas dan membuat keyakinan sekolah. 
        Saya selalu mengingatkan kepada rekan sejawat bahwa untuk melakukan suatu perubahan mari kita mulai dari diri sendiri. Mari kita munculkan motivasi intrinsik dalam diri dalam rangka mewujudkan budaya positif. Karena segala yang kita lakukan itu yang akan menjadi contoh bagi murid kita.
        Dalam pembelajaran, saya selalu menekankan kepada murid untuk selalu memperhatikan nilai-nilai kebajikan karena inilah yang nantinya akan menjadi bekal mereka ketika sudah berada di masyarakat. Ilmu bisa mereka dapatkan di mana saja, tetapi karakter dan nilai-nilai kebajikan itu haruslah dimiliki sejak dini.



Dahniar, ST., M.Pi
CGP Angkatan 5 Kota Kendari

    

Rabu, 24 Agustus 2022

KONEKSI ANTAR MATERI - MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF



A. KESIMPULAN 

Peran Guru dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan :

1. Disiplin Positif

    Makna kata "disiplin" dalam budaya kita adalah sesuatu yang kita lakukan kepada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan. Menurut Bapak ki Hadjar Dewantara bahwa : “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ‘self discipline’ yaitu kita sendiri